Memupuk dan Menumbuhkan Diri dalam Dakwah

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-language:EN-US;}

“Kau tahu, betapa diri ini terasingkan dengan lingkungan yang ku temukan.
Tapi baru kali ini ada keterpaksaan yang menyenangkan, ada pahit yang menjadi
lezat, ada guntur yang menghadiahkan pelangi.”
Di semester satu aku
bergabung di organisasi ekstra. Mungkin jika dikatakan aktif, diriku aktif. Namun,
setelah semester dua yang mengharuskan aku tinggal di Asrama Putri (Aspi) UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta aku lebih sibuk dengan kegiatan asrama di setiap
malam juga disibukkan dengan dunia kegalauan  karena sedang ‘beradaptasi’ dengan dunia
hijrah.
Saat semester awal, teman
dekatku rutin setiap jum’at untuk mentoring. Setiap aku tanya hendak pergi ke
mana, mereka selalu menjawab ‘mentoring’. Ada hal yang membuat hatiku perih
mendengarnya. “Oh, mentoring.”
Tidak jarang di Musholla
akhwat  lantai dua FITK diramaikan dengan
wanita-wanita berbusana rapi dengan asiknya berbincang-bincang. Terdapat  kedekatan yang amat dari mereka saat saling
menatap wajah lawan bicaranya. Beberapa akhwat lain pun ada yang sedang tilawah
Al-Qur’an. Pemandangan itu aku lihat bukan sekali atau dua kali, namun
seringkali setiap aku mengunjungi atau hanya sekedar lewat musholla akhwat
lantai dua.
Saat itu aku berfikir
akan menjadi akademisi saja, itu diakibatkan karena padatnya jadwal praktikum
dan pembinaan-pembinaan  wajib di Aspi.
Ada salah satu teman kelasku yang juga tinggal Aspi, dia anak Lembaga Dakwah
Kampus, mentoringnya rajin setiap pekan. Suatu malam dia menghampiriku dan
menceritakan keseruan beraktivitas di Lembaga Dakwah Kampus. Katanya saat ini
dia berada di Komisariat Dakwah Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. “LDK?”
yang terbayangkan dalam pikiranku adalah LDK Al-Huriyyah IPB, LDK Salman ITB,
dan LDK Salam UI; bukankah itu keren? Tapi, di kampus UIN ini ada LDK juga?
Saat itu aku masih
menjadi mahasiswa yang termakan doktrin yang tersebar luas di masyarakat umum,
bahwa UIN adalah ‘LIBERAL’, itulah statemant yang tumbuh dalam diriku dan
mendeskripsikan LDK adalah hal yang sama seperti yang aku pikirkan. “Tapi, program LDK ada mentoringnya juga?
Terus, mentoring LDK itu yang kaya gimana? Sepertinya beda dari yang aku tahu!”
LDK Komda FITK melakukan
Open Recruitment. Hatiku masih bimbang antara ikut atau tidak. Namun, karena
ada beberapa teman kelasku yang mengikuti Latihan Kader Dakwah Istimewa (LKDI) aku
pun memutuskan untuk ikut. Aku ingin membuktikan apakah LDK seperti yang aku
sangka sebelumnya. Acara LKDI dilakukan serempak di seluruh Fakultas di UIN
Jakarta. FITK bergabung dengan Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI) yang diadakan
pada Jum’at sore hingga Ahad siang di Sekolah Alam, Parung.
Banyak hal yang harus aku
paksakan dalam agenda ini. Ya, pemaksaan yang baik. Setiap detik watu harus
dimanfaatkan dengan baik. Memang bukan termasuk dalam rundown acara panitia,
namun diingatkan untuk tilawah setiap waktu kosong, menyedikitkan berbicara dan
bersunda gurau, dan memperkenalkan cara berkomunikasi dengan lawan jenis yang
langsung dicontohkan oleh kakak-kakak panitia tanpa diagendakan dan tanpa
memerintah; itu semua berjalan dengan rapi tanpa rekayasa. Ketika sedikit saja
lengah terhadap waktu, aku diingatkan, “Dek, lebih baik tilawah” karena targetan
selama LKDI hingga usai adalah selesai membaca Al-Qur’an sebanyak 3 juz.
Materi-materi yang
disampaikan pada LKDI serupa dengan kebutuhan pergaulan kampus. Walaupun masih
dikategorikan mahasiswa baru, namun saat itu sedikit banyak tahu dari cerita
beberapa orang yang sudah berkecimpung di kehidupan kampus, khususnya UIN
Jakarta. Sehingga timbullah persepsi, bahwa ternyata di kampus yang Islami ini
belum tentu semua orang di dalamnya memahami Islam secara utuh. Justru, kampus
yang berlebel Islam ini, terdapat banyak pemahaman-pemahan Islam yang berbeda
menjadi tantangan tersendiri. Apalagi, terhadap mereka yang menamakan Islam
tetapi secara pergaualan kehidupan sehari-harinya tidak mencerminkan
nilai-nilai keislaman.
Selain itu, ternyata
banyak ancaman-ancaman yang dihadapi oleh orang-orang muslim yang berusaha
menjaga kesucian keislamannya. Tantangan-tantangan itu bisa datang dari luar,
seperti orang-orang yahudi dan nasrani yang menjajah umat Islam dari sisi
pemikiran yang disebut gzhowzul fikr.
Mungkin saja tantangan itu datang dari umat islamnya sendiri, yaitu orang-orang
munafik yang ingin menghancurkan Islam dari dalam.
Rasulullah saw. sewaktu
bersama dengan para sahabatnya pernah berkata: “Akan datang suatu masa di mana bangsa-bansa lain akan menyerbu kalian
(kaum muslim) seperti orang –orang yang menyerbu hidangan yang ada di
hadapannya.” Salah seorang sahabat bertanya, “Apakah hal itu dikarenakan jumlah
kita yang sedikit pada waktu itu, ya Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab: “Tidak!
Jumlah kalian saat itu besar, tetapi kalian saat itu seperti buih yang ada di
lautan. Dan Allah akan menghiangkan dari hati musuh-musuhmu ‘ketakutan terhadap
dirimu’ dan Allah akan memasukkan ‘Al-Wahn’ ke dalam hatimu.” Sahabat yang lain
bertanya, “Apa itu ‘Al-Wahn’ ya Rasulallah?” rasulullah saw. berkata, “Al-Wahn
adalah cinta dunia dan takut mati.”
Rasa-rasanya, ramalan
Rasulallah itu terjadi saat ini. Jumlah kaum muslimin banyak, tetapi mereka
sedang tertidur; diam saat terjadi kerusakan pada islam, agamanya sendiri. Buih
di lautan itu adalah pengibaratan sesuatu tak berdaya. Buih memiliki jumlah
yang banyak, tetapi tidak ada kekuatan untuk menghadapi sapuan air di
sekeilingnya; buih hanya bisa mengikuti air.
LKDI membuka jalan
pikiranku dan membantah rencana awal; menjadi akademisi saja. Jika merenungi
keadaan umat islam saat ini, yang sedang dilahap oleh para zionis yang merusak
moral generasi islam, bukan lagi saatnya untuk berdiam diri, “kamu harus punya kontribusi untuk agamamu!”
begitulah kira-kira kalimat yang menyelusup dalam relung jiwa.
Maka, perlulah suatu
wadah untuk menyatukan pemuda-pemuda Islam yang masih memiliki nurani dan
keberpihakan kepada panji Islam ini. Ketahuilah, bahwa dalam keadaan yang
seperti ini maka panji Islam telah lama terkulai, membutuhkan tangan-tangan
perkasa yang mau bergerak untuk menegakkan kembali panji kejayaan Islam. Dan dari
LKDI ini, bekal awal yang aku dapatkan sehingga memicu untuk bangkit,
bersemangat, terus belajar, dan istikomah; walau merupakan awal yang sulit, dan
tentunya banyak kerikil-kerikil dalam setiap prosesnya. Nikmatilah!
Share the Post:

4 Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Bahagia yang Tertahan

Saat kumulai menulis ini, baru memasuki Syawal kelima. Saat rasanya lelah badanku belum hilang setelah aksi Palestina bersama Serikat Pengemudi Daring (Speed) empat hari setelah

Read More »